masukkan script iklan disini
Rumah yang ditempatinya tampak rapuh dimakan usia. Tidak ada aliran listrik yang menerangi malam-malamnya. Air bersih pun menjadi kemewahan yang sulit ia rasakan. Bahkan, untuk sekadar memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Nenek Sukirah disebut bergantung pada belas kasih warga sekitar yang dengan ikhlas memberinya makanan.
Jumat (31/7), Ketua LSM Garang, Chaidir Azhar, didampingi Sekretaris LSM Garang, Chairul, bersama rombongan turun langsung meninjau kediaman Nenek Sukirah. Kunjungan tersebut dilakukan setelah menerima informasi mengenai kondisi memprihatinkan yang telah lama dialami perempuan lanjut usia itu.
Selain hidup dalam keterbatasan, kondisi kesehatan Nenek Sukirah juga dikabarkan sering terganggu. Ia disebut telah bertahun-tahun belum memiliki identitas kependudukan, serta tinggal di rumah yang bahkan tidak memiliki kamar mandi yang layak.
Kondisi tersebut sontak menggugah kepedulian banyak pihak. Informasi yang disampaikan Tim LSM Garang kepada Pusat Informasi Media turut mendapat perhatian dari Aktivis Sosial-Politik Indonesia, Muhammad Mas'ud Silalahi.
Dengan nada prihatin, Mas'ud mempertanyakan mengapa masih ada warga negara yang harus menjalani kehidupan dalam kondisi seperti itu selama bertahun-tahun.
"Ke mana negara selama ini? Mengapa masih ada masyarakat yang dibiarkan hidup dalam kondisi seperti ini? Seharusnya persoalan seperti ini menjadi perhatian serius pemerintah," ujarnya.
Mas'ud menegaskan bahwa Nenek Sukirah membutuhkan langkah nyata, bukan sekadar rasa iba. Menurutnya, pemerintah harus segera turun tangan memberikan perlindungan, pelayanan administrasi kependudukan, layanan kesehatan, serta bantuan tempat tinggal yang layak agar perempuan lanjut usia tersebut dapat menikmati sisa hidupnya dengan lebih bermartabat.
Ia juga berharap LSM Garang terus mengawal perjuangan kemanusiaan ini hingga mendapat perhatian dari Bupati Aceh Tamiang, Gubernur Aceh, bahkan Presiden Republik Indonesia.
"Jangan biarkan perjuangan ini berhenti di sini. Terus kawal sampai pemerintah benar-benar hadir dan memberikan solusi nyata bagi Nenek Sukirah," tegasnya.
Kisah Nenek Sukirah menjadi pengingat bahwa masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kesunyian dan keterbatasan. Di balik usia yang renta, ia tetap bertahan menjalani hari demi hari di rumah yang nyaris roboh, menunggu uluran tangan dan hadirnya perhatian dari mereka yang memiliki kewenangan.
Kini harapan itu kembali menyala. Semoga jeritan sunyi Nenek Sukirah tidak lagi sekadar menjadi cerita pilu, tetapi menjadi panggilan kemanusiaan yang mampu menggerakkan hati semua pihak untuk menghadirkan keadilan sosial bagi warga yang paling membutuhkan.
(Redaksi)








